Rabu, 27 Oktober 2010

Berangkat ke Kampus, Pulang ke Penjara

Most students catch the bus to campus, other come in cars, Mohammed is escorted from his cell to the university gates by soldiers. At the end of a day’s studying, while his peers go off to smoke argeela (water pipe) and shoot pool in the cafes around town, he is escorted back to his cramped cell. His story represents the wider tale of denial and disruption of education enacted by the Israeli occupation.








I meet Mohammed (name changed to protect his identity) near one of the West Bank’s eight higher education institutions. He is a calm, reserved 25-year old Palestinian studying to become a primary school teacher.

Five years ago, Mohammed threw rocks at an Israeli convoy on one of its routine raids into the refugee camp where he lives. For this he was shot in the leg and saw his best friend die in his arms. “I can’t forget that” he tells me. At first he took to sleeping in the streets to avoid arrest, but the Israelis warned his parents that if he didn’t turn himself in they would kill him and destroy the family home.

At the request of the Israelis, Mohammed was taken into a Palestinian Authority-run prison. He claims he did not receive a trial and for the first two years wasn’t allowed to leave.
After his two year internment he was granted permission to leave his cell during the day, provided he returned by eight o’clock to spend the night there. Mohammed has always wanted to be a primary school teacher and went about securing a place at the best local University, no mean feat for a boy from a refugee camp.

While the academic rigour required of all university students is a challenge in itself Mohammed’s predicament has made studying a far greater task. He is one of hundreds of Palestinian higher education students that have suffered at the hands of the Israelis. Birzeit University as of 2009 had 87 of its students incarcerated in jail, 47 of which had yet to be found guilty on any charge.

Every day Palestinian soldiers would escort Mohammed both to and from the University campus. I ask if he is able to study in his cell. He looks at me incredulously "can’t study"he replies, in reference to the prison‘s unbearable heat. We sit in a spacious room on the third floor with two fans whirring above our heads and the room’s numerous windows all open, "but in my cell the window is tiny". He uses his hands to indicate a window approximately 20 centimetres in both height and width.

It is not merely the climactic conditions that prevent him from studying he informs me, but the "bad, feeling" he experiences when sat in his cell. Recently his next door neighbour deliberately set his cell alight as an act of protest inadvertently setting himself aflame in the process. Such harrowing tales are common in the prison. This, coupled with his loneliness, makes writing essays and swotting for exams virtually impossible. Neither is he able to sleep, leaving him desperately tired during his classes.

Mohammed tells me that he never feels relaxed enough to fully concentrate on his studies. One teacher I talked to described how during a recent lesson Mohammed had left abruptly. His friend explained at the end of the lesson that, "the soldiers were calling him, they want to take him to jail." This occurs every time the IDF (Israeli Defence Force) launches a raid in the surrounding area. Should they see him out during this exercise he would almost certainly be shot.

Mohammed describes to me how his heart skips a beat every time his phone rings with an unrecognised number, fearing it is a summons to jail. I ask him what would happen if he ignored the call or didn’t turn up at eight, "Israelis will kill me" he replies. This is no idle threat, A fellow inmate was shot by the Israelis recently whilst walking with friends through town. This occurred before the curfew deadline of eight o’clock. He received no treatment and was left to die on the road.

Mohammed is constantly on edge, cars revving their engines and people shouting all make him cast a nervous glance over his shoulder. His parents are petrified for their son’s safety, having already had one son killed by the Israelis. He tells me his mum rings him every night at eight o’clock to make sure he is back in his cell. Despite being in constant fear for his life Mohammed still manages to keep up with his studies. One of his lecturers that I interviewed described him as a ‘bright and studious boy’.

Every three to six months the Israelis produce a list of prisoners to be freed. Though he has no idea if and when he will be on that list he prays that it will be soon. Mohammed is desperate to get on with his life, to finish university, begin a career as a primary school teacher and at long last be able to sleep, in his own bed.



=======



Sementara umumnya para mahasiswa datang ke kampus dengan mobil dan bus, Ahmed datang dengan kendaraan militer. Setelah jam kuliah usai, sebagian teman-temannya akan pergi ke kafe-kafe di sudut kota. Bermain bilyar atau menghisap sheesha. Tapi Ahmed sudah ditunggu tentara di gerbang kampus, ia harus pulang ke penjara. Inilah sejumput fakta dari kisah pahit dunia pendidikan Palestina sepanjang penjajahan Israel.

Penulis Palestinemonitor menemui Ahmed, sebut saja demikian, dekat salah satu dari delapan institusi pendidikan tinggi di West-Bank. Pria berusia 25 tahun yang tampak kalem dan pendiam ini tengah menjalankan studi untuk menjadi guru sekolah dasar.
Kisah Ahmed berawal lima tahun lalu. Waktu itu ia melempari tentara Israel dengan batu, bagian rutin dari kesehariannya di kamp pengungsi. Kakinya tertembak, sementara darah rekannya yang tewas membasahi kedua tangannya. "Saya tak pernah bisa melupakan peristiwa itu", katanya menerawang. Tentara Israel mengincarnya. Agar tak ditangkap, malam harinya ia tidur di jalanan.  Tapi rupanya tentara Israel mengancam orangtuanya, bila tak segera menyerahkan Ahmed ke Israel maka mereka akan membunuhnya dan menghancurkan rumahnya.
Demi mendengar ancaman itu, Ahmed akhirnya dimasukkan ke dalam penjara yang dikelola oleh pemerintah Palestina. Selama dua tahun, Ahmed tak pernah disidangkan dan tak pernah diizinkan meninggalkan penjara.
Setelah dua tahun diasingkan, akhirnya ia mendapatkan izin untuk keluar dari penjara di siang hari, dan kembali pada jam delapan malam untuk menginap kembali di sana. Ahmed memang memiliki keinginan kuat untuk kuliah di perguruan tinggi lokal terbaik demi cita-citanya menjadi guru sekolah dasar. Sebuah cita-cita tak biasa dari seorang bocah kamp pengungsi.
Beban kuliah yang sudah cukup berat bagi mahasiswa pada umumnya menjadi semakin menantang bagi Ahmed. Ahmed tak sendiri, ratusan mahasiswa Palestina bernasib sama dengannya: diasingkan di penjara oleh tentara-tentara Israel. Di Universitas Birzeit saja, pada tahun 2009 tercatat 87 mahasiswanya mengalami pengasingan serupa, hingga saat ini 47 di antaranya belum jelas ditahan atas tuduhan apa.
Setiap pagi Ahmed dikeluarkan dari penjara oleh tentara Palestina lalu dijemput kembali seusai kuliah. Penulis palestinemonitor bertanya pada Ahmed, apakah ia bisa belajar di dalam sel penjara? Iapun segera menjawab dengan tatapan yakin, "tidak bisa", seraya menggambarkan pengap dan panasnya sel tempat ia tinggal. Saat itu mereka berbicara di sebuah ruangan yang cukup luas, sementara dua kipas angin dan beberapa jendela dibiarkan terbuka. "Ukuran jendela di sel saya hanya sebesar ini", katanya seraya menggambarkan sebuah kotak berukuran 20 x 20 cm.
Tak hanya udara panas yang menjadi alasannya untuk tidak dapat fokus belajar. Kondisi psikologis penjara yang penuh depresi juga membuat perasaannya selalu kelam. Baru-baru ini saja tetangga selnya membakar sel sebagai aksi protes seraya membakar dirinya sendiri di dalam sel itu. Cerita-cerita mengenaskan semacam itu sudah biasa di dalam penjara, sehingga hampir sulit membayangkan untuk menulis essai atau mengerjakan ujian dengan tenteram. Bahkan untuk tidur saja sulit, ini membuatnya sering datang di kampus dengan kelelahan yang sangat sepanjang perkuliahan.
Ahmed mengatakan bahwa ia tak pernah merasa tenang selama kuliah, ia tak pernah bisa berkonsentrasi penuh. Seorang dosennya mengatakan bahwa suatu hari Ahmed pergi tergesa-gesa dari kelas. Saat dosen itu bertanya pada temannya tentang alasan Ahmed pergi setergesa itu, temannya berkata"tentara meneleponnya, mereka bilang akan membawanya ke penjara" . Itu terjadi setiap kali IDF (Israeli Defence Force) merazia area sekitar kampus. Bila sampai tentara Israel melihatnya, hampir pasti Ahmed akan segera ditembak mati.
Ahmed menggambarkan betapa hatinya selalu berdegup kencang ketika telepon selularnya berdering dari panggilan nomer tak dikenal. Ia selalu khawatir bahwa itu adalah panggilan ke penjara. Ini tidak main-main, seorang rekannya sesama tahanan tewas ditembak oleh tentara Israel saat tengah berjalan-jalan dengan teman-temannya di kota baru baru ini. Waktu itu belum sampai pukul delapan malam. Ia ditembak dan dibiarkan tewas tergeletak bersimbah darah di tengah jalan.
Kondisi Ahmed benar-benar bagai di ujung tanduk. Orangtuanya yang telah kehilangan satu anak terbunuh oleh tentara Israel sangat menginginkan ia selamat. Setiap jam sembilan malam ibunya menelepon untuk memastikan bahwa Ahmed berada di dalam selnya. Dapat dibayangkan bahwa ia dirudung ketakutan sepanjang hidupnya. Tapi semua itu tak melunturkan semangatnya untuk terus bertahan dan berjuang dalam studinya. Terbukti, seorang dosen yang sempat diwawancarai tentang Ahmed mengatakan bahwa ia adalah "mahasiswa yang cerdas dan tekun"
Setiap tiga sampai enam bulan, pihak penjara mengumumkan orang-orang yang dibebaskan. Secercah harapan yang membuat Ahmed tak lepas berdoa agar segera tiba gilirannya. Ahmed sangat ingin melanjutkan hidupnya, menyelesaikan kuliahnya di universitas, lalu menjadi guru sekolah dasar.... hingga saat pulang, ia akan dapat tidur...di tempat tidurnya sendiri...




Hakikat Bencana dalam Al-Qur'an




إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهد الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مشرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته الى يوم الدين. أما بعد, فيا عباد الله اوصيكم ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون. وقال الله تعالى في محكم التنزيل بعد أعوذ بالله من الشيطان الرجيم : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران : (102)
Hanya dengan cara itulah ketakqawaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan…. Selanjutnya, shalawt dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaiman perintah Allah, " Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawan dan salam pada nabi (Muhammad) Saw. " (QS Al-Ahzab : 56)






Beberepa tahun belakangan ini, khususnya sejak Desember 2004 lima tahun silam saat tsunami menerjang kawasan Barat Indonesia, khususnya wilayah Nanggro Aceh Darussalam, kita semakin sering melihat dan menyaksikan berbagai peristiwa besar yang menimpa negeri ini, dan terakhir gempa dengan kekuatan 7.8 SR mengguncang wilayah Sumatera, khususnya kota Padang dan Padang Pariaman.
Peristiwa-peristiwa besar (bencana alam) itu bahkan juga menimpa hampir semua kawasan di atas bumi ini, tak terkecuali Negara-negara maju teknologi seperti Jepang, Taiwan, Cina, Eropa, Amerika dan sebabagainya.
Berbagai bencana alam seperti, gempa bumi, banjir besar, tsunami, berbagai penyakit yang mewabah dan bahkan di berbagai kawasan Amerika malah angin topan dan badai, seakan telah menjadi tontonan biasa.
Yang lebih menyedihkan lagi ialah, semua peristiwa besar tersebut dipandang bagaikan peristiwa yang terjadi begitu saja, tanpa ada kaitannya dengan kehendak Tuhan Maha Pencipat alam ini, Allah Ta’ala dan tanpa ada kaitannya dengan pembangjangan manusia terhadap Allah Tuhan Pencipta mereka.
Hal tersebut dapat kita lihat ungkapan dan opini yang berkembang dalam masyarakat yang mengandung semangat melawan bencana-bencana besr tersebut dengan cara membangun rumah dan gedung anti gempa, teknologi pendeteksi tsunami, kanal-kanal raksasa pengendali banjir, hujan buatan untuk mengatasi kekeringan, menciptakan vaksin anti berba gai virus yang menyebar di berbagai penjuru dunia dan sebagainya.
Apa yang diberitakan, didiskusiakan dan dilakukan sama sekali tidak mencerminkan hubungan semua peristiwa itu dengan Allah Rabbul Alamin.

Cara Pandang Manusia Terhadap bencana Alam
Kalau kita mentadabburkan ayat-ayat Al-Qura’an terkait bencana alam yang menimpa berbagai umat sebelum kita, sejak zaman nabi Nuh, Ibrahim, Luth, Syu’aib, Sholeh, Musa dan sebagainya, kita akan menemukan dua cara pandang manusia terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas bumi ini.
  • Pertama, cara pandang orang-orang kafir dan ingkar pada Allah dan Rasul-Nya.
Cara pandang orang-orang yang sombong pada Allah dan tidak mengenal Tuhan Pencipta alam yang sebenarnya. Cara pandang orang-orang sekular yang tidak mampu melihat kaitan antara Tuhan dengan hamba, antara agama dengan kehidupan dan antara dunia dan akhirat.

Manusia semacam ini adalah manusia yang tidak pernah mau dan tidak mampu menjadikan berbagai peristiwa alam tersebut sebagai pelajaran dan sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Mereka bukannya mengoreksi diri dan kembali kepada Allah, melaikan semakin bertambah kesombongan dan pembangkangan mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Hal seperti ini dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, QS. Ghafir (40) : 21–27

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآَثَارًا فِي الْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ (21) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَكَفَرُوا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ (22) وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآَيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ (23) إِلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (24) فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا اقْتُلُوا أَبْنَاءَ الَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ وَاسْتَحْيُوا نِسَاءَهُمْ وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (25) وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ (26) وَقَالَ مُوسَى إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ (27)

" Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah (21) Yang demikian itu adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir; maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras hukuman-Nya (22) Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,(23) kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: "(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta."(24) Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: "Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka." Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka) (25) Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi."(26) Dan Musa berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab. " (27) (QS. Ghafir : 21-27)
  • Kedua, cara pandang orang-orang beriman kepada Allah dan para Rasulnya.
Apa saja peristiwa alam yang terjadi mereka kembalikan semuanya kepada kehendak dan kekusaan Allah, mereka hadapi dengan hati yang penuh iman, tawakakal, sabar dan tabah sert amereka lihat sebagai sebuah ujian dan musibah untuk menguji kualitas keimanan dan kesabaran mereka, atau bisa jiag sebagai teguran Allah atas kelalaian dan dosa yang mereka lakukan.

Selain itu, semua peristiwa yang menimpa manusai mereka jadikan sebagai momentum terbaik untuk mengoreksi diri (taubat) agar lebih dekat kepada Allah dan sistem Allah dan Rasul-Nya. Pada saat yang sama merekapun meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.
Mereka adalah orang-orang yang sukses dalam beriteraski dengan alam dan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan semasa hidup di dunia dan juga di akhirat kelak. Allah menjelasakannya dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 155–157 :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

" Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (seusngguhnya kami milik Allah dan sesunnguhnya kami sedang menuju kemabali kepada-Nya) (156) Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. " (157) (QS. Al-Baqoroh : 155 -157)

Penyebab Terjadinya Musibah
Al-Qur’an dengan tegas menjelasakan bawa sebab utama terjadinya semua peristiwa di atas bumi ini, apakah gempa bumi, banjir, kekeringan, tsunami, penyakit tha’un (mewabah) dan sebagainya disebabkan ualah manusia itu sendiri, baik yang terkait dengan pelanggaran sisitem Allah yang ada di laut dan di darat, maupun yang terkait dengan sistem nilai dan keimanan yang telah Allah tetapkan bagi hambanya.
Semua pelanggaran tersebut (pelanggaran sunnatullah di alam semesta dan pelanggaran syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad Saw), akan mengakibatkan kemurkaan Allah. Kemurkaan Allah tersebut direalisasikan dengan berbagai peristiwa seperti gempa bumi, tsunami dan seterusnya.
Semakin besar pelanggaran manusia atas sistem dan syariat Allah, semakin besar pula peristiwa alam yang Allah timpakan pada mereka.

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40)

" Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. " (QS. Al-Ankabut : 40)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41)
" Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). " (QS. Ar-Rum : 41)

Melalui ayat-ayat Al-Qur’an tersebut jelaslah bagi kita bahwa :
  1. Semua peristiwa dan bencana yang kita saksikan di atas bumi dan alam semesta ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melaikan sesuai kehendak dan ketentuan Tuhan Penciptanya, yakni Allah Ta’ala.
  2. Berbagai persitiwa dan bencana itu disebabkan kedurahakaan dan kesombongan manusia terhadap Allah dan syari’at Allah serta berbagai dosa-dosa yang mereka lakukan. Lalu Allah menurunkan berbagai azab atas mereka.
  3. Orang-orang kafir, sombong dan ingkar pada Allah dan Rasul-Nya melihat berbagai peristiwa tersebut murni hanya sebagai peristiwa alam yang terlepas dari kehendak dan sekenario Allah. Mereka tidak dapat mlihatnya sebagai sebuah azab, teguran atau cobaan. Melaikan hanya menambah kesombongan dan kekufiran kepada Allah. Sikap yang mereka kembangkan juga seakan melawan kehendak Alla. Namun sayang, sepanjang perjalanan umat manusia, belum ada satupun manusia yang mampu mengalahkan dan melawan kehendak Allah, kendati Fir’au yang begitu hebat memiliki semuak kekuatan saat berkuasa, namun tenggelam juga di laut merah dan bangkai dapat kita saksikan sekarang di sebuah useum di Mesir. Demiakian juga dengan Negara-negara maju teknolohi hari ini seperti jepang, Eropa dan Amerika. Belum pernah mereka mampu menahan gempa bumi, tsunami dan berbagai bencana yang Allah turunkan di negeri mereka. Semuanya lemah dan tak berdaya di hapadan kehendak Allah.
  4. Sebaliknya, orang-orang beriman akan melihat semua peristiwa yang terjadi merupakan ujian dan teguran dari Allah. Mereka akan segera kembali dan bertaubat pada Allah. Semakin taat pada aturan Allah, baik yang terkait dengan sunnatullah maupun syari’at Allah.
  5. Sistem Allah terkait dengan imbalan (pahala) dan hukuman (punishment) bukan hanya terjadi di akhirat, melainkan sudah Allah terapkan sejak kita hidup di dunia. Setiap kebaikan yang dibangun di atas dasar iman pada Allah dan ketaatan pada-Nya dan Rasul-Nya akan berakibat keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat. Sebaliknya, setiap pelanggaran sistem Allah yang terkait dengan keimana, syari’ah, akhlak, sunnatullah dan sebabgainya akn berakibat kepada tidakan Allah melalui berbagai bencana yang Allah timpakan kepada manusia. Mari kita renungkan firman Allah


    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96) أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (97) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (98) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (99)
    " Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka menolak (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (96) Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? (97) Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? (98) Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. " (99) (QS. Al-A’raf : 96–99)