Memaparkan catatan dengan label Luv ISLAM. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Luv ISLAM. Papar semua catatan

Isnin, 10 Januari 2011

Kisah Menjadi Kaya karena Menikah

 
 
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================


Pada hari-hari pertama pernikahan kami, suami bertanya, “Ke mana saja uangmu selama ini,..???” Pertanyaan itu sungguh menggedor dadaku. Ya, ke mana saja uangku selama ini,..??? Buku tabunganku tak pernah berisi angka belasan hingga puluhan juta. Selalu hanya satu digit. Itu pun biasanya selalu habis lagi untuk kepentingan yang agak besar seperti untuk bayar kuliah (ketika aku kuliah) dan untuk kepentingan keluarga besarku di kampung. Padahal, kalau dihitung-hitung, gajiku tidaklah terlalu kecil-kecil amat. Belum lagi pendapatan lain-lain yang kudapat sebagai penulis, instruktur pelatihan menulis, pembicara di berbagai acara, guru privat, honor anggota tim audit ataupun tim studi. Lalu, ke mana saja uangku selama ini,..??? Kepada suamiku, waktu itu aku membeberkan bahwa biaya operasional untuk keaktifanku cukup besar. Ongkos jalan, pulsa telepon, nombok biaya kegiatan, makan dan traktiran. Intinya, aku mencari apalagi atas aliran uangku yang tidak jelas.


Namun diam-diam aku malu padanya. Sesaat sebelum pernikahan kami, dia berkata, “Gajiku jauh di bawah gajimu...”. Kata-kata suamiku -ketika masih calon- itu membuatku terperangah. “Yang benar saja,..???” sambutku heran. Dengan panjang kali lebar kemudian dia menjelaskan kondisi perusahaan plat merah tempatnya bekerja serta bagaimana tingkat numerasinya. Yang membuatku lebih malu lagi adalah karena dengan gajinya yang kecil itu, setelah empat tahun hidup di Jakarta, ia telah mampu membeli sebuah sepeda motor baru dan sebuah rumah –walaupun bertipe RSS- di dalam kota Jakarta. Padahal, ia tidak memiliki sumber penghasilan lain, dan dikantornya dikenal sebagai seorang yang bersih, bahkan “tak kenal kompromi untuk urusan uang tak jelas.” Fakta bahwa gajinya kecil membuatku tahu bahwa suamiku adalah seorang yang hemat dan pandai mengatur penghasilan. Sedang aku,..???


***


Hari-hari pertama kami pindahan..

Aku menata baju-baju kami di lemari. “Mana lagi baju, Mas,..???” tanyaku pada suami yang tengah berbenah. “Udah, itu aja..!!!” Aku mengernyit. “Itu aja,..??? Katanya kemarin baju Mas banyak,..???” tanyaku lebih lanjut. “Iya, banyak kan,..???” tegasnya lagi tanpa menoleh. Aku kemudian menghitung dengan suara keras. Tiga kemeja lengan pendek, satu baju koko, satu celana panjang baru, tiga pasang baju seragam. Itu untuk baju yang dipakai keluar rumah. Sedang untuk baju rumah, tiga potong kaos oblong dengan gambar sablon sebuah pesantren, dua celana pendek sedengkul dan tiga pasang pakaian dalam. Ketika kuletakkan dalam lemari, semua itu tak sampai memenuhi satu sisi pintu sebuah lemari. Namun dua lemari besar itu penuh. Itu artinya pakaianku lebih dari tiga kali lipat lebih banyak dibanding jumlah baju suamiku. Kata orang, kaum wanita biasanya memang memiliki baju lebih banyak dibanding kaum laki-laki. Tapi isi lemari baju itu memberikan jawaban atas banyak hal padaku. Terutama, pertanyaannya di hari-hari pertama pernikahan kami tentang ke mana saja uangku. Isi lemari itu memberi petunjuk bahwa selain untuk keluarga dan organisasi, ternyata aku menghabiskan cukup banyak uang untuk belanja pakaian. Oooo.....!!!


Pekan-pekan pertama aku hidup bersamanya..

Aku mencoba mencatat semua pengeluaran kami. Dan aku sudah mulai memasak untuk makan sehari-hari. Cukup pusing memang. Apalagi jika melihat harga-harga yang terus melonjak. Tapi coba lihat...!!! Untuk makan seminggu, pengeluaran belanjaku tak pernah lebih dari seratus ribu. Padahal menu makanan kami tidaklah terlalu sederhana: dalam seminggu selalu terselip ikan, daging atau ayam meski tidak tiap hari. Buah–makanan -kesukaanku- dan susu –minuman favorit suamiku- selalu tersedia di kulkas. Itu artinya, dalam sebulan kami berdua hanya menghabiskan kurang dari lima ratus ribu untuk makan dan belanja bulanan. Aku jadi berhitung, berapa besar uang yang kuhabiskan untuk makan ketika melajang,..??? Aku tak ingat, karena dulu aku tak pernah mencatat pengeluaranku dan aku tidak memasak. Tapi yang pasti, makan siang dan malamku rata-rata seharga sepuluh hingga belasan ribu. Belum lagi jika aku jalan-jalan atau makan di luar bersama teman. Bisa dipastikan puluhan ribu melayang. Itu artinya, dulu aku menghabiskan lebih dari 500ribu sebulan hanya untuk makan..Ups...!!!


Baru sebulan menikah..

“De, kulihat pembelian pulsamu cukup banyak, bisa lebih diatur lagi,..???”
“Mas, untuk pulsa, sepertinya aku tidak bisa menekan. Karena itu adalah saranaku mengerjakan amanah di organisasi.” Si mas pun mengangguk. Tapi ternyata, kuhitung dalam sebulan ini, pengeluaran pulsaku hanya 300 ribu, itu pun sudah termasuk pulsa untuk hp si Mas, lumayan berkurang dibanding dulu yang nyaris selalu di atas 500 ribu rupiah.


Masih bulan awal perkawinan kami..

Seminggu pertama, aku diantar jemput untuk berangkat ke kantor. Tapi berikutnya, untuk berangkat aku nebeng motor suamiku hingga ke jalan raya dan meneruskan perjalanan dengan angkutan umum sekali jalan. Dua ribu rupiah saja. Pulangnya, aku naik angkutan umum. Dua kali, masing-masing dua ribu rupiah. Sebelum menikah, tempat tinggalku hanya berjarak tiga kiloan dari kantor. Bisa ditempuh dengan sekali naik angkot plus jalan kaki lima belas menit. Ongkosnya dua ribu rupiah saja sekali jalan. Tapi dulu aku malas jalan kaki. Kuingat-ingat, karena waktu mepet, aku sering naik bajaj. Sekali naik enam ribu rupiah. Kadang-kadang aku naik dua kali angkot, tujuh ribu rupiah pulang pergi. Hei, besar juga ya ternyata ongkos jalanku dulu..!! Belum lagi jika hari Sabtu Ahad. Kegiatanku yang banyak membuat pengeluaran ongkos dan makan Sabtu Ahadku berlipat.


Belum lagi tiga bulan menikah..

“Ke ITC, yuk, Mas,..???” Kataku suatu hari. Sejak menikah, rasanya aku belum lagi menginjak ITC, mall, dan sejenisnya. Paling pasar tradisional. “Oke, tapi buat daftar belanja, ya,..!!!” kata Masku. Aku mengangguk. Di ITC, aku melihat ke sana ke mari. Dan tiap kali melihat yang menarik, aku berhenti. Tapi si Mas selalu langsung menarik tanganku dan berkata,”Kita selesaikan yang ada dalam daftar dulu..!!!” Aku mengangguk malu. Dan aku kembali teringat, dulu nyaris setiap ada kesempatan atau pas lewat, aku mampir ke ITC, mall dan sejenisnya. Sekalipun tanpa rencana, pasti ada sesuatu yang kubeli. Berapa yaaa dulu kuhabiskan untuk belanja tak terduga itu,..??!!


Masih tiga bulan pernikahan “Kita beli oleh-oleh sebentar ya, untuk Bude,..???” Masku meminggirkan motor. Kios-kios buah berjejer di pinggir jalan. Kami dalam perjalanan silaturahmi ke rumah salah satu kerabat. Dan membawakan oleh-oleh adalah bagian dari tradisi itu.
“Sekalian, Mas. Ambil uang ke ATM itu...” Aku ingat, tadi pagi seorang tetangga ke rumah untuk meminjam uang. Ini adalah kesekian kali, ada tetangga meminjam kepada kami dengan berbagai alasan. Dan selama masih ada si Mas selalu mengizinkanku untuk memberi pinzaman (meski tidak langsung saat itu juga). Semua itu membuatku tahu, meskipun hemat, si Mas tidaklah pelit. Bersikaplah pertengahan, begitu katanya. Jangan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas, tapi jangan lantas menjadi pelit..!!!


***


Semester pertama pernikahan..

Mengkilat. Elegan. Kokoh. Masih baru. Gress. Begitu sedap dipandang mata. Benda itu, sudah sekian lama kuinginkan. Sebuah laptop baru kelas menengah (meski masih termasuk kategori low end). Namun selama ini, setiap kali melihatnya di pameran atau di toko-toko komputer, aku hanya bisa memandanginya dan bermimpi. Tak pernah berani merencanakan, mengingat duitku yang tak pernah cukup. Tapi rasanya, dalam waktu dekat benda di etalase itu akan kumiliki. Rasanya sungguh indah, memiliki sebuah benda berharga yang kubeli dengan uangku sendiri, uang yang kukumpulkan dari gajiku.


Sejak menikah, aku tak pernah lagi membeli baju untuk diriku sendiri. Pakaian dan jilbabku masih dapat di-rolling untuk sebulan. Sejak menikah, aku memilih membawa makan siang dari rumah ke kantor. Aku juga jarang ke mall lagi. Dan kini, setiap kali akan membeli sesuatu, aku selalu bertanya: perlukah aku membeli barang itu,..??!! Indahnya, aku menikmati semua itu. Dan kini, aku bisa menggunakan tabunganku untuk sesuatu yang lebih berharga dan tentu saja bermanfaat bagi aktifitasku saat ini, lingkunganku dan masa depanku nanti.


Aku bersyukur kepada Allah. Semua ini, bisa dikatakan sebagai berkah pernikahan. Bukan berkah yang datang tiba-tiba begitu saja dari langit. Tapi berkah yang dikaruniakan Allah melalui pelajaran berhemat yang dicontohkan oleh suamiku. Rabb, terima kasih atas berkahMu...


=====


Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci

Barakallahufiikum.semoga bermanfaat
Mohon sampaikan ini kepada yang lain.
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
--------------------------------
 
 

Sabtu, 25 Disember 2010

ALLAHU AKBAR . . . Betapa Kecil'na Kita (-_-


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================

Rasanya Bumi yang kelilingnya 40.000 km ini sangat besar bagi kita. Untuk pergi ke Amerika atau Afrika saja jauh sekali. Apalagi jika sampai harus ke Antartika. 
Tapi coba kita lihat besar Bumi kita dengan ciptaan Allah lainnya. Ternyata tidak ada apa-apanya. Bahkan bintang yang terbesar pun hanya satu titik dibanding Galaksi, Cluster, Super Cluster, Jagad Raya.

Tapi di atas semua itu kita harus yakin bahwa Allah pencipta Semesta Alam jauh lebih besar dari semua itu. Allah Maha Besar!


Ukuran Bumi dibanding Planet Jupiter

Ukuran Bumi dibanding Matahari. Diameter (lebar) matahari 1.391.980 km. Jika bumi “dimasukkan” ke matahari, ada 1,3 juta bumi yang bisa masuk.


Ukuran Matahari dibanding Bintang Arcturus



Ukuran Matahari dibanding Bintang Antares. Saat ini bumi sudah tidak bisa dilihat lagi. Diameter Antares 804.672.000 km.


Kalau anda menganggap Antares sudah sangat besar, ternyata bintang itu masih belum apa-apa dibanding dengan galaksi seperti Galaksi Bimasakti yang terdiri dari ratusan milyar bintang dengan lebar hingga 100 ribu tahun cahaya (1 detik cahaya=300.000 km).



Galaksi itu pun tidak seberapa jika dibanding dengan Cluster (Kumpulan) Galaksi yang terdiri dari ribuan Galaksi.



Tapi di atas Cluster masih ada Super Cluster yang terdiri dari ribuan Cluster. Ribuan Super Cluster akhirnya membentuk jagad raya.



Saat ini diperkirakan Jagad Raya (Universe) lebarnya 30 milyar tahun cahaya. Tapi ini cuma angka sementara mengingat teleskop tercanggih saat ini “cuma” bisa mencapai jarak 15 milyar tahun cahaya!

Jika dunia ini begitu luas, maka Allah menegaskan bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Jauh lebih luas lagi dari dunia!
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Al Baqarah 255]


Maha Besar Allah Tuhan Pencipta Alam!

Maka bertasbihlah kepada Allah!


=====


Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci
http://suara-bintangkecilku.blogspot.com/2010/12/allahu-akbar-betapa-kecilna-kita.html
http://syiarislam.wordpress.com/2010/03/12/seberapa-besarkah-bumi-kita-allah-maha-besar


Barakallahufiikum.semoga bermanfaat
Mohon sampaikan ini kepada yang lain.
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
--------------------------------  

Isnin, 6 Disember 2010

DISAAT WANITA HARUS BEKERJA

 
 
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================
 

Tidak bisa dipungkiri, antara wanita dan bekerja adalah sebuah polemik. Dalam satu sisi, jelas disebutkan dalam Al-Qur’an



Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu[1216] dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab:33)

[1215]. Maksudnya: Isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'. Perintah ini juga meliputi segenap mukminat.

[1216]. Yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam.

[1217]. Ahlul bait di sini, yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

Dari ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kemuliaan bagi para istri Nabi shalallahu alaihi wassalam dan ummul mu’minah lainnya untuk mengemban tugas suci yakni mengurus rumah tangga dan mendidik generasi-generasi baru. 

Wanita memang istimewa, mereka memang dipersiapkan Allah untuk tugas itu, baik secara fisik maupun mental dan tugas yang agung ini tidak boleh dilupakan ataupun diabaikan oleh faktor material dan kultural apa pun. Sebab, tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan peran wanita dalam tugas besarnya ini. Dengan kata lain, padanyalah masa depan umat ini dan dengannya pula terwujud kekayaan yang paling besar yakni kekayaan yang berupa manusia (sumber daya manusia). Sebagaimana telah sampai kepada kita, kisah yang begitu mengharukan serta mempesona dari seorang wanita bernama Tumadhir binti Amru atau Al-Khansa dengan keempat putranya yang syahid fii sabilillah. (Lihat SwaraQuran edisi no.6 tahun 2006)

Pekerjaan rumah meskipun terlihat sepele tetapi pahala yang dijanjikan Allah u begitu besarnya, sebanding dengan pahala jihad fii sabilillah yang dilakukan oleh suami mereka.

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain[259]. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." ’”(QS. Ali Imran:195)

[259]. Maksudnya sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, maka demikian pula halnya perempuan berasal dari laki-laki dan perempuan. Kedua-duanya sama-sama manusia, tak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.

Siapapun yang beramal baik, mereka akan mendapatkan pahala di akhirat dan balasan yang baik di dunia.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. ” (QS. An Nahl:97)

[839]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Tetapi di sisi lain, kita tidak dapat menutup mata terhadap berbagai realita di sekitar kita dimana terkadang wanita berada dalam beberapa kondisi berikut ini.
  • Kondisi “SULIT”
Misalnya, karena ia seorang janda atau diceraikan suaminya, sedangkan tidak ada orang atau keluarga yang menanggung kebutuhan ekonominya, kemudian dia sendiri melakukan usaha untuk mencukupi dirinya dengan minta-minta atau menunggu uluran tangan orang lain.
  • Kondisi keluarga yang “MEMAKSA”
Misalnya membantu suami, seperti hanlnya yang dilakukan oleh Asma’ binti Abu Bakar radhiyallohu anhu -yang mempunyai dua ikat pinggang- biasanya membantu suaminya Zubair bin Awwam radhiyallohu anhu dalam mengurus kudanya, menumbuk biji-bijian untuk dimasak, sehingga ia juga sering membawanya di atas kepalanya dari kebun yang jauh dari Madinah.

Membantu ayahnya yang sudah tua, sebagaimana kisah dua orang putri seorang syaikh yang sudah lanjut usia yang menggembalakan kambing ayahnya, sepeti dalam Al-Quran,

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya".” (QS. Al-Qashash:23)
  • Keberadaannya memang dibutuhkan di masyarakat
Melakukan tugas-tugas yang sesuai dengan fitrah kewanitannya. Misalnya seperti mengobati dan merawat wanita, mengajar anak-anak putri, dan kegiatan lain yang memerlukan tenaga khusus wanita.

Dalam sejarah, kita mengenal seorang bidan muslimah yakni Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, istri Umar bin Khattab. Selain itu ada Asy-Syifa’ binti Abdullah bin Adbu Syams dari suku Quraisy Al-Adawiyyah, yang merupakan guru wanita pertama dalam Islam, dan diantara yang menjadi muridnya adalah Hafshah binti Umar bin Khattab, istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Ia mengajarkan tulis menulis dan pengobatan dengan ruqyah. Sedangkan Ummu Sulaim binti Milhan mengajarkan kita tentang ketegaran seorang dai wanita dalam mengimplementasikan Islam pada lingkup pribadi, keluarga dan lingkungan sekitarnya. radhiyallohu anhum.

Bila ternyata ada hal-hal yang memaksa untuk bekerja, ada beberapa hal yang patut diperhatikan, untuk melegalkan wanita untuk keluar rumah agar tidak bertentangan dengan syara’.

1. Hendaknya Pekerjaan itu sendiri diSyariatkan

Artinya, pekerjaan itu tidak haram atau bisa mendatangkan sesuatu yang haram, seperti wanita yang bekerja untuk melayani lelaki bujang atau wanita menjadi sekretaris khusus bagi seorang direktur yang karena alasan kegiatan mereka sering berkhalwat (berduaan) atau menjadi penari yang merangsang nafsu hanya demi mengeruk keuntungan duniawi, atau bekerja di bar-bar untuk menghindari minuman-minuman keras –padahal Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah melaknat orang yang menuangkannya, membawanya, dan menjualnya. Atau menjadi pramugari di kapal terbang dengan menghidangkan minuman-minuman yang memabukkan, bepergian jauh tanpa disertai mahram, bermalam di negeri asing sendirian, atau melakukan aktivitas-aktivitas lain yang diharamkan oleh Islam, baik yang khusus untuk wanita maupun khusus untuk laki-laki, ataupun untuk keduanya. 

2. Memenuhi Adab Wanita Muslimah ketika Keluar Rumah (baik dalam berpakaian, berjalan, berbicara, dan melakukan gerak-gerik)
 
Allah berfirman, Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur 31)

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk[1213] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[1214] dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS. Al-Ahzab: 32)

[1213]. Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.

[1214]. Yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.

3. Janganlah Pekerjaan atau Tugasnya itu Mengabaikan Kewajiban-Kewajiban Lain yang Tidak Boleh Diabaikan

Seperti kewajiban terhadap suami atau anak-anaknya yang merupakan tugas untama seorang wanita. Perlu adanya kesadaran yang menyeluruh dan keikhlasan dari pihak istri. 

Meminta pengertian dari suami adalah hal yang lain, sedangkan kewajiban adalah hal yang lain pula. Tanggung jawab yang diemban wanita semenjak seorang lelaki “meminta”nya adalah hal yang berhubungan langsung dengan rabbnya. Meskipun “perdamainan” diantara keduanya diperbolehkan, tetapi akan lebih mulia kedudukan seorang wanita apabila mampu menjaga keluarganya. Merupakan salah satu penyebab retaknya keluarga adalah ketika wanita melupakan –sengaja melupakan atau merasa terpaksa melupakan- keluarganya.

Allah tidak menciptakan manusia melainkan untuk menguji siapakah diantara mereka yang paling baik amalannya. Oleh karena itu, wanita diberi tugas untuk beramal sebagaimana laki-laki –dan dengan amal yang lebih secara khusus (membina keluarga)- untuk memperoleh pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana halnya laki-laki. Dan agar amal yang dilakukan tidak sia-sia, amalan itu harus selalu berniat karena Allah atau jauh dari keterpaksaan maupun tujuan dunia yang hina serta ittiba’ Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

Berbahagialah ketika kita menjawab pertanyaan, ”Apa pekerjaan Anda,..???” dengan jawaban, ”Saya seorang ibu rumah tangga”. Karena di dalamnya terlingkup kemuliaan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Begitu pula seharusnya, meskipun predikatnya adalah pengusaha, pedagang, dokter, guru, dan sebagainya, tetapi ketika kita mampu memberi jawaban, ”Saya seorang ibu rumah tangga,” maka berbahagialah karena kita berarti telah mampu melaksanakan kewajiban utama kita dan pekerjaan “sambilan” itu. Inilah implementasi dari pemahaman yang menyeluruh dalam tanggung jawab ibu rumah tangga.



=====


Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci
 
Sumber: Swaraquran No.7 Tahun ke-6/Dzulhijjah 1427-Muharram 1428/ Januari 2007, hal 56.

Barakallahufiikum.semoga bermanfaat
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
--------------------------------  

Ahad, 5 Disember 2010

Do'a Malaikat Kecil Ku

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================




Ya Allah, berilah mama kesehatan, sembuhkanlah mama supaya mama bisa ke kantor lagi, aamiiin . . . !!!

Bocah kecil berusia empat tahun, dengan mata berkaca-kaca tangan tertengadah berdoa kepada Tuhannya, untuk kesembuhan sang Bunda. Sesaat selepas berdoa, ia menoleh kepada Bunda untuk memberikan senyum kecil nan tulus. Matanya yang bulat bening, seolah mengatakan bahwa ia sangat berharap Bunda dapat sehat kembali, supaya dapat beraktifitas seperti sedia kala.

Aku terharu. Sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dia adalah malaikat kecil, yang dianugerahkan Allah Yang Pemurah kepada kami.

Badanku yang terbaring lemas tanpa daya di atas pembaringan ini, secepat kilat seakan mendapat kekuatan baru mendengar barisan doa itu. Perlahan aku beringsut dari posisi tidurku, lantas duduk bersandar. Masih di pembaringan.

Makasih, ya Kak... Kakak sangat baik sama Mama, ucapku tak kalah tulus.

Iya, sama-sama... Mama juga sangat baik sama Iq, sahutnya, sembari datang memelukku.

Ah... Tuhan, indah sekali moment seperti ini. Pintar sekali dia, bak seorang dewasa saja tingkahnya. Terima kasih! Seruku dalam hati.

Anak kecil itu, memang masih sangat kecil jika diajak untuk berbicara banyak hal yang rumit. Namun Subhannallah... betapa ia sudah peka dengan yang terjadi di sekelilingnya, termasuk untuk mendoakan mamanya yang sedang sakit. Padahal, jika pun aku sembuh... waktuku tak banyak kuberikan padanya.
 
 
*** 




***

Sejak dokter kandungan menyatakan bahwa aku mengandung anak kedua tiga bulan lalu, daya tahan tubuhku agak menurun. Seringkali mudah terserang sakit. Lebih cepat lelah. Dan kadang, kurasakan mual. Jika dibandingkan dengan kehamilan pertama, aku memang harus banyak bersyukur karena kali ini tak serepot dahulu. Jika dulu aku sempat tak doyan makan nasi hingga usia kandungan tiga bulan, kini nafsu makanku malah meningkat. Aku juga tak sampai muntah. Alhamdulillah...

Namun mungkin, karena merasa lebih sehat dari dulu, aku lepas kontrol. Bekerja terlalu keras, bahkan seringkali lembur, hingga pulang ke rumah larut malam. Memang sih, di awal tahun begini, pekerjaanku seringkali menumpuk. Maka jadilah kemudian aku ambruk!

Suatu pagi, dua hari lalu, aku merasakan tubuhku teramat lunglai. Ketika kupaksakan bangun, mataku berkunang-kunang dan hampir terjatuh. Beruntung ada suami di belakangku, yang kemudian memapahku kembali ke kamar.

Dan sejak saat itu pula, aku nyaris tidak mengerjakan suatu pekerjaan apa pun, kecuali berbaring. Tiduran. Walau tak bisa juga aku tidur. Berdasarkan pemeriksaan dokter, aku kecapekan. Diminta untuk banyak beristirahat. Hmm... Meski begitu, pikiranku masih saja melayang ke kantor, menuju pekerjaan yang pasti kian hari kian terbengkalai karena belum tersentuh.

Dan kesibukanku sebagai ibu rumah tangga sekaligus perempuan bekerja, membuat waktu terasa begitu sempit untuk berbagi dengannya. Meskipun demikian, bocah suci itu... selalu saja periang. Mudah memaafkan. Dan tak pernah menyimpan setitik amarah pun dalam hati putihnya. Kini, setelah mendengar doanya, aku baru menyadari. Bahwa selama empat tahun ia diamanahkan kepada kami, aku belum begitu bisa menjaganya.

Seringkali ketika ia meminta perhatian, dengan tiba-tiba duduk di pangkuanku, misalnya. Aku malah mengusirnya. Memintanya duduk sendiri, dengan alasan dia sudah semakin besar. Atau ketika dia datang dengan setumpuk buku cerita di tangan mungilnya untuk dibacakan, seribu satu alasan kuberikan padanya. Aku amat paham bahwa ia sangat sayang padaku. Namun jahatnya, aku seringkali menggunakan belas kasihnya sebagai dalih.

Nanti malam saja, Sayang. Mama masih capek, baru datang dari kantor. Lagipula tenggorokan mama gatal, jadi... nanti malam saja ceritanya, ya...

Dan seperti yang sudah-sudah, alasan kecapekan atau sakit, selalu ia terima dengan senyuman. Ia pun pergi dengan tumpukan bukunya.Dan selama itu pula, aku tak pernah menyesal. Padahal aku mungkin telah mengecewakannya begitu rupa. Sekarang... doa tulusnya telah berhasil membangunkan aku dari kekhilafan. Aku berharap, dan akan berjuang keras... untuk tidak menolak keinginan baiknya. Untuk menyambut perhatian yang ia damba dari bundanya.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepadaku, untuk dapat berubah menjadi bunda yang lebih baik buatnya. Karena Allah telah begitu sayang kepadaku, dengan memberikan putra yang demikian sholih... hingga dalam usianya yang relatif sangat sangat muda, doa tulusnya telah mengalir buatku. Dan semoga kelak ia menjadi anak yang sholih, yang bisa menerangi kubur dan mengangkat derajat kami di Syurga, dengan doa-doa panjangnya yang melimpah, aamiiin...

Apabila anak cucu Adam itu wafat, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholih yang mendoakan orang tuanya. (HR Muslim, dari Abu Hurairah ra).

Akan diangkat derajat seorang hamba yang sholih di Syurga. Lalu ia akan bertanya-tanya: Wahai Allah, apa yang membuatku begini? Kemudian dikatakan kepadanya, Permohonan ampun anakmu untukmu.  (HR Ahmad, dari Abu Hurairah ra).
 




=====


Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci....

Barakallahufiikum.semoga bermanfaat
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
--------------------------------
 

** Mungkinkah Hati in akan Bersinar,..!! **

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================
 
 
" Betapa hati manusia akan menyinarkan cahaya, bila cermin hati kita masih memantulkan beraneka macam gambar tentang akan alam kemakhlukan,..??? Betapa seorang hamba mampu menjumpai Allah, padalah ia terbelenggu ke dalam syahwat,...??? Bagaimana mungkin seorang hamba dengan keinginan kerasnya untuk masuk kehadirat Allah, padahal ia belum bersih dari janabat kelalaiannya,...??? Bagaimana mungkin seorang hamba mampu memahami berbagai rahsia yang halus-halus, padahal ia belum juga bertaubat dari kesalahannya,..??? "

Dua hal tersebut diatas tentu saja sangat mustahil dikumpulkan menjadi satu. Bahkan orang akan keheranan apabila ada orang yang menghendakinya berbinar-binar cahayanya, padahal ia sendiri belum mampu memisahkan diri dari gambaran dunia yang mengasyikan. Tidak mungkin cahaya Allah itu dapat ditangkap untuk menghiasi hatinya apabila cermin hatinya masih tertutup kegelapan dunia. Karena cermin hati itu dapat cahayanya apabila telah mendapat sinar keimanan...!!

Peranan yang perlu diperhatikan oleh seorang hamba dalam langkah-langkah menghidupkan iman dan ketakwaannya kepada Allah, tidak lain adalah melenyapkan kendala yang menutup pintu hati kita berupa perbuatan maksiat, kedurhakaan, kesenangan duniawi yang berlebih-lebihan, dan semua amal perbuatan yang dapat menghambat seorang hamba mendekati Allah Azza wa Jalla. Untuk memperoleh derajat seorang muttaqin maka seorang hamba hendaklah terus menerus mengadakan kontak dengan Allah diwaktu apapun, memohon hidayah dan pimpinan dari Allah yang mengetahui segala sesuatu yang terang-terang ataupun tersembunyi. Seperti firman Allah Azza wa Jalla dalam surat Al Baqoroh ayat 282, " Dan bertaqwalah kepada Allah Dia-lah yang akan memimpin kamu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu " Diriwayatkan pula dalam suatu kabar, " Barang siapa mengamalkan sesuatu yang telah diketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu pengetahuan yang belum ia ketahui. " 

Adapun segala yang wujud di dunia semuanya serba gelap. Pemberi cahaya terang kepada yang gelap itu adalah Al Haq (Tuhan Pemelihara Alam Semesta). " Barang siapa melihat wujud Allah di dalam alam semesta ini, akan tetapi dirinya sendiri, atau sebelumnya atau sesudahnya (baik itu mikro kosmis atau makro kosmos), maka pastilah cahaya itu telah menyilaukannya sehingga pemandangannya terhalang dari sinar makrifat karena kabut yang ada disekitarnya. " Seluruh benda yang ada di alam makro ini asalnya tidak ada (dalam keadaan gelap) tidak nampak pada pandangan mata manusia. Selanjutnya benda-benda di alam makro itu lalu menjadi ada, dan menunjukkan dirinya dengan jelas dan terang (mengeluarkan cahayanya), sehingga cahaya itu pun menjadikan alam ini nampak dengan jelas dan terang. Dari mana cahaya dan siapa yang meletakkan cahaya itu,..???? Tidak lain Dia adalah Al Haq (Wujud dan Benar) yang Maha Kuasa dan Memelihara serta Maha Kaya dan Maha Luas Ilmu-Nya. Allah swt.

Mewujudkan benda-benda di alam semesta ini sebagai perwujudan bekas dari wujud Allah swt sendiri. Manusia dapat melihat adanya Allah Ta'ala dengan melihat dan menikmati bekas ciptaan yang Maha dasyat ini, maka sesungguhnya pandangan mata lahir dan pandangan mata bathinnya sedang tertutup, atau sengaja menutup penglihatannya sendiri, karena tidak ingin mengenal Allah swt.

Mata dan pandangan orang beriman dan yakin kepada iman yang dimilikinya, akan memandang alam semesta dan seluruh benda yang ada didalamnya menjadi bukti adanya Allah Azza wa Jalla. Bagi orang beriman cukupkan alam semesta ini sebagai bukti yang sulit untuk dipungkiri. Akan tetapi apabila ada hamba Allah tidak melihat wujud Allah dari hasil ciptaan yang maha dasyat ini, maka jelas mata hatinya masih tertutup rapat, dan rohaninya beku tidak mampu melihat wujud Allah pada wujud alam semesta.

Abu Hasan Asy-Syadzilli menerangkan tentang penglihatan manusia, " Melihat Allah itu hanya dengan penglihatan iman dan yaqin. Allah Swt. telah memperkaya alam semesta ini dengan dalil yang kokoh tentang wujud-Nya, alam ini telah menjadi burhan (penjelasan yang kokoh pula) sebagai tanda dari ciptaan Allah Swt. Oleh karena memandang alam semesta ini tidak lain hanya dengan mata keimanan dan keyakinan sepenuhnya. " 

Cahaya Allah akan menembus seluruh yang ada dalam rongga dada manusia, selama manusia berkehendak mencari dan menemukan Allah. Kendala yang menjadi penyebab terhalangnya seorang mukmin mendekati Tuhannya, dosa dan maksiatnya yang menggelapkan hati sanubari. Kebersihan rohani dan kesucian kalbu adalah cara yang paling dekat dan sangat berharga serta dipelihara kemurniannya, agar sinar Allah (nurullah) bertahta terus menerus dalam hati dan jiwa orang beriman. Rahasia Allah di alam semesta ini dapat dipetik oleh orang beriman dan dijadikan penerang bagi kalbunya, sehingga si hamba memperoleh makrifatullah.


Insya Allah . . .




=====


Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci....

Barakallahufiikum.semoga bermanfaat
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
--------------------------------
 

Rabu, 1 Disember 2010

Renungan Para Kaum Pornografi dan Pornoaksi


 
 
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================
 


Apa jadinya bila seorang pemuda sholeh digoda oleh wanita cantik,..???
 
Kepada para pelaku pornografi dan pornoaksi, bisa mengambil hikmah dari kisah ini. 
 
 
Kecantikan dan keindahan tubuh adalah ujian. Kisah ini pun bisa menjadi inspirasi bagi da’i dalam berdakwah. Bahwa berda’wah itu harus lemah lembut, bukan dengan kekerasan ataupun caci maki kepada pelakunya. Karena hati, hanya bisa disentuh oleh hati. Selamat membaca..

Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk. Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi’ dalam beribadah telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khaitsam pernah shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat keduapuluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya, “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu..!”

Seluruh jiwa Rabi’ larut dalam penghayatan ayat itu. Kehidupan dan kematian orang berbuat maksiat dengan orang yang mengerjakan amal shaleh itu tidak sama..! Rabi’ terus menangis sesenggukan dalam shalatnya. Ia mengulang-ngulang ayat itu sampai terbit fajar.

Kesalehan Rabi’ sering dijadikan teladan. Ibu-ibu dan orang tua sering menjadikan Rabi’ sebagai profil pemuda alim yang harus dicontoh oleh anak-anak mereka. Memang selain ahli ibadah, Rabi’ juga ramah. Wajahnya tenang dan murah senyum kepada sesama.

Namun tidak semua orang suka dengan Rabi’.
Ada sekelompok orang ahli maksiat yang tidak suka dengan kezuhudan Rabi’. Sekelompok orang itu ingin menghancurkan Rabi’. Mereka ingin mempermalukan Rabi’ dalam lembah kenistaan. Mereka tidak menempuh jalur kekerasan, tapi dengan cara yang halus dan licik. Ada lagi sekelompok orang yang ingin menguji sampai sejauh mana ketangguhan iman Rabi’.

Dua kelompok orang itu bersekutu. Mereka menyewa seorang wanita yang sangat cantik rupanya. Warna kulit dan bentuk tubuhnya mempesona. Mereka memerintahkan wanita itu untuk menggoda Rabi’ agar bisa jatuh dalam lembah kenistaan. Jika wanita cantik itu bisa menaklukkan Rabi’, maka ia akan mendapatkan upah yang sangat tinggi, sampai seribu dirham. Wanita itu begitu bersemangat dan yakin akan bisa membuat Rabi’ takluk pada pesona kecantikannya.

Tatkala malam datang, rencana jahat itu benar-benar dilaksanakan. Wanita itu berdandan sesempurna mungkin. Bulu-bulu matanya dibuat sedemikian lentiknya. Bibirnya merah basah. Ia memilih pakaian sutera yang terindah dan memakai wewangian yang merangsang. Setelah dirasa siap, ia mendatangi rumah Rabi’ bin Khaitsam. Ia duduk di depan pintu rumah menunggu Rabi’ bin Khaitsam datang dari masjid.

Suasana begitu sepi dan lenggang. Tak lama kemudian Rabi’ datang. Wanita itu sudah siap dengan tipu dayanya. Mula-mula ia menutupi wajahnya dan keindahan pakaiannya dengan kain hitam.

Ia menyapa Rabi’, “Assalaamu’alaikum, apakah Anda punya setetes air penawar dahaga?”

“Wa’alaikumussalam. Insya Allah ada. Tunggu sebentar.” Jawab Rabi’ tenang sambil membuka pintu rumahnya. Ia lalu bergegas ke belakang mengambil air. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan membawa secangkir air dan memberikannya pada wanita bercadar hitam.

“Bolehkah aku masuk dan duduk sebentar untuk minum. Aku tak terbiasa minum dengan berdiri.” Kata wanita itu sambil memegang cangkir.

Rabi’ agak ragu, namun mempersilahkan juga setelah membuka jendela dan pintu lebar-lebar.

Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain hitam yang menutupi tubuhnya. Ia lalu merayu Rabi’ dengan kecantikannya.

Rabi’ bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu, “Wahai saudari, Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Allah yang Maha pemurah telah menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu neraka?!
“Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta padamu. Kulit dan tubuhmu penuh borok busuk. Kecantikanmu hilang. Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah seperti ini ?!
“Saudariku, seandainya saat ini malaikat maut datang menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada malakaikat munkar dan nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan saat ini pada Allah di padang mahsyar kelak?!”

Suara Rabi’ yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi’ mukanya menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh. Ia langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari rumah Rabi’ dipenuhi rasa takut kepada Allah swt. Perkataan Rabi’ itu terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan berubah menjadi wanita ahli ibadah.

Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi’ kaget mendengar wanita itu bertobat. Mereka mengatakan, “Malaikat apa yang menemani Rabi’. Kita ingin menyeret Rabi’ berbuat maksiat dengan wanita cantik itu, ternyata justru Rabi’ yang membuat wanita itu bertobat..!”

Rasa takut kepada Allah yang tertancap dalam hati wanita itu sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba ampunan dan belas kasih Allah swt. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali nasibnya di akhirat. Ia terus shalat, bertasbih, berzikir dan puasa. Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat. Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah padang pasir. [Sang Hikmah]


***





=====


Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci....

Buku “Di Atas Sajadah Cinta. Kisah-Kisah Teladan Islami Peneguh Iman dan Penenteram Jiwa”

Barakallahufiikum.semoga bermanfaat
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
--------------------------------